assalmualikum wr.wb selamat malam gan, pada kesempatan kali ini saya selaku admin ingin membagikan sebuah cerpen yang menarik dan agak lucu-lucu gmana gitu hehehe :) ini cerpen di ciptakan (weh bahasany lo :p) oleh teman saya yang bbernama samaran Apoy, ini sepertinya cerita yang diambil dari kehidupannya sendiri deh hohoho :D mungkin sih saya gk tau jug, ya udah gk usah banyk bacot lagi, langsung kita lihat aja yukkk. cekidottt ..................
Tryout
Pertama Ku
Lonceng
berbunyi.
“teng teng teng teng teng teng”.
Pertanda ujian akan segera dimulai. Aku
, Dafa, desi, Ira, dan teman-teman yang lainnya menunggu di depan ruang 6 kelas XI IPA 3. Tak lama kemudian 2 orang
pengawas yang raut wajahnya sedikit menyeramkan datang dan membuka pintu ruang ujian kami.
“Silahkan
masuk !”,kata salah seorang pengawas.
Tak
menunggu lama aku dan yang lainnya memasuki ruang ujian dan menuju ke meja
masing-masing.
“Baiklah
anak-anak mata ujian kalian hari ini adalah bahasa Inggris. Silahkan letakkan
tas kalian di depan, yang ada di atas meja hanya alat tulis saja !”, kata
seorang pengawas.
“iaa
pak” jawab kami serempak.
“Satu
orang pimpin do’a” perintah pengawas yang lainnya.
“Siap
grak!, berdo’a mulai!”, aku memimpin do’a.
Sangat
hening suasana ketika kami berdo’a. “berdo’a selesai”, ucap ku mengakhiri do’a.
Kedua pengawas mulai membagikan naskah
soal dan lembar jawaban. Satu per satu soal dibagikan dan aku pun mendapatkan naskah
soal ku yang kebetulan soal tersebut adalah tipe paket A. Jantungku berdegup
kencang, “ya Allah mudahkan lah aku dalam mengerjakan soal ini, aamiin” ucap ku
dalam hati sebelum membuka lembar soal. “Bismillah”, sebutku sambil membuka
naskah soal ku.
Perlahan namun pasti mulai ku isi data diri
pada kolom-kolom yang tersedia. Kini
tiba saatnya mengerjakan soal.
“Sreekkk”, suara kertas soal yang mulai ku balik. “Jrengggg”…. Betapa
terkejutnya aku ketika melihat naskah soal ku ada yang berupa tipe soal
listening. “ waduh waduh waduh, mati aku kalo begini mah” ucapku dalam hati
sambil mengelus-elus kening ku. “Padahal kemampuan listening ku kan rendah
banget, apa yang mesti aku lakukan nih???”, Tanya ku dalam hati mulai kebingungan.
“Hmmm kalo begini caranya cuma ada satu jalan terakhir, terpaksa aku harus
mutar penghapus nih”, jawab ku dengan
sedikit bego’.
Satu per satu listening mulai di
putar, aku mendegarkan dengan seksama
berusaha untuk memahami apa yang diucapkan narrator, tapi apa mau dikata
meskipun berusaha keras memahami tapi tetep aja ngak paham-paham. “ nasib
nasib”, ujar ku pasrah sambil memutar penghapus untuk memilih jawaban.
Kini soal-soal listening berakhir
sudah. Saatnya masuk pada tipe soal reading. “Ya ampuuunnn ini mau ngerjain
soal atau disuruh baca novel? Udah panjang-panjang, banyak lagi…” ucapku
terkejut melihat bacaan yang panjang panjang kaya jalan tol.
Sembari menenangkan pikiran, aku
sedikit menoleh-noleh melihat konco-konco ku yang lagi ngerjain soal juga. Aku
tenggok ke kanan, aku lihat si Brian yang mulai mengelus-elus keningnya,
karingat yang bercucuran dikeningnya menandakan ia kebingungan mengerjakan soal
miliknya. Aku tengok ke kiri, ternyata si Arung sedang menghitung kancing bajunya, kayaknya dia pasrah menjawab berdasarkan
hitungan kancing bajunya. Hanya si Desi, yang duduk tepat di depan ku
mengerjakan soal miliknya tanpa ada gerakan yang mencurigakan, nampaknya dia
benar-benar siap untuk menghadapi soal-soal miliknya. Aku sedikit tertawa
melihat konco-konco ku yang seperti itu, yaaa meskipun aku juga kurang lebih
dengan mereka.
Ku tengok jam dinding yang berada
di depan kelas, waktu menunjukan pukul 09.18 Wita. “Wah cepaet banget waktunya
berlalu” ucapku dalam hati. Aku pun kembali membaca soal milik ku mencoba untuk
fokus dan memahami maksud pertanyaan tiap soal milik ku. Soal demi soal aku
kerjakan. Beberapa soal aku yakin akan kebenaran jawabannya, tapi gak sedikit
juga yang aku ragu-ragu.
“Anak-anak
sisa waktu kalian tinggal 10 menit”, pengawas memberitahu kami.
“apaaa?” tanyaa beberapa anak dengan pura-pura tidak
tahu.
Seluruh soal telah aku jawab, namun
bebrapa kali aku mengecek kembali lembar
jawaban ku barang kali ada soal yang tak sempat terisi. Dengan penuh keyakinan
aku berdiri dan mengumpulkan hasil ujian ku. Lalu aku menuju keluar kelas
sambil menuggu konco-koncoku yang lain. Aku menengok ke arah jam yang tertempel
di dinding depan kelas, ternyata waktunya sudah habis.
“Baiklah anak-anak waktu ujian
kalian telah habis, sekarang cepat kumpulkan lembar jawaban kalian!”, perintah pengawas
yang beraut wajah seram tadi.
“Aduh
pakkkk, bentar dulu ya masih belum selsai nih” ucap Iis.
“udah
udah, waktumu sudah habis !” ucap pengawas sambil menarik LJK milik Iis.
“Aaiiissss,
bapak ini gtu loooo….”, ucap Iis sedikit kesal.
Pengawas tadi mengabaikan si
Iis. “Gluduk gluduk gluduk”, teman-teman
ku berlarian dan berebut untuk mengumpulkan LJK milik mereka. Beberapa teman ku
wajahnya tampak murung dan berkeringat dingin karena ujian tadi dan tak banyak
yang nampak bahagia karena mereka yakin akan hasil ujian mereka. Ujian hari itu
selsai, jadi kami aku bersiap-siap untuk pulang.
Di jalan depan kelas XII IPS aku
bertemu dengan si Fendi, kami pun sedikit bercakap-cakap tentang ujian yang
tadi kami lakukan.
“Bro
bro, gimana tadi ujian mu???”, Tanya si fendi pada ku.
“Ya
begitulah bro, kadang mikir, kadang muter penghapus”, jawab ku sedikit pasrah.
“Hahahahahaha….
Kalo gitu kita sama bro” jawab fendi sambil tertawa.
“Hahahahaha”,
aku tertawa kecil.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10
lewat 15. Aku pun menuju keparkiran, perlahan mulai ku naiki motor MX merah ku,
ku letakkan kontakya dan kunyalakan mesinnya, beberapa saat kemudian aku
bergegas pulang dan meninggalkan halaman sekolah.
keren ka cerpen nya menarik banget lanjutkan ka aku mau baca yang lain nya juga makasih.
BalasHapus