nih saya akan membagikan sebuah cerita pendek (cerpen) yang di buat oleh teman saya yang bernama samaran "Apoy" , awalnya teman saya membuat cerpen ini karena terinspirasi oleh mimpinya tersebut dan sekaligus ada tugas disekolah membuat cerpen, cerita ini menceritakan tentang seorang anak yang ditinggal oleh ibu tercintanya untuk selamanya, pokoknyanya sedih deh dan mengharukan, cerita ini banyak sekali hikmahnya yang bisa kita ikuti......
mana ceritanya, kebanyakn cerita lo. hehe dah nungguin ya? :) ya udah ni simak ceritanya, duduk yang tenang dan posisikan yang enak agar dapat hikmahnya dari cerpen ini...... dah dulu ya... cekidott :p
KEPERGIAN IBU
Ku tengok jam tangan ku.
“ahhh dah jam 1 nih, waktunya pulang, pulang ahhh……”
gumamku.
Kemudian aku mengambil tas hitam ku yang terdiam diatas kursi tempat duduk ku.
“aduh, berat juga ni tas” keluhku dalam hati.
Kebetulan hari ini pelajarannya sungguh padat, jadi aku harus membawa beban
berat dipunggungku.
“Hey broo .. pulang yo, dah jam 1 nih”, ku ajak si
Anto
“yoyoo, dluan ae…” jawab si Anto
“yowes aku duluan yooo..” kataku dengan bahasa jawa
yang keteteran.
“yoooo…” jawab Anto medok jawa.
Perlahan kulangkahkan
kakiku untuk pulang. Aku keluar lingkungan sekolah melalui pintu belakang. Hari
ini aku tidak membawa bawa motor, jadi aku harus jalan kaki untuk sampai ke
rumah. “Cuaca hari ini panas banget”, aku mengeluh dalam hati sambil menutupi
wajah ku yang terkena panasnya sinar matahari.
Perlahan tapi pasti ku
lalui jalan untuk pulang kerumah. Untuk menghilangkan rasa lelah dan penat ku,
sesekali ku lantunkan solawat-solawat kepada nabi.”Sholatullah salamullah,
‘alaa thoha rasulillah. Sholatullah salamullah, ‘alaa yasin habibillah”, aku
bersenandung sangat asik. Sampai-sampai,
Jeduuukkk,
“Aduhhh…..hampir aja jatuh”, gumamku penuh syukur,
karena terlalu asik, tak ku lihat batu yang ada di depanku, dan akibatnya aku
tersandung.
Tak terasa aku sudah sampai dibawah gunung
rumahku. Dari kejauhan tampak keramaian di depan rumah ku. Aku terkejut dan
bertanya-tanya “Ada acara apa ya di rumah, kok rame banget”, Tanya ku dalam
hati.
“Ahh, paling juga buat acara nanti malam”, jawab ku
sendiri. Kebetulan malam ini kan giliran Bapak ku yang Serakalan.
Namun, tiba tiba
terdengar suara “wiu wiu wiu wiu wiu wiu wiu” sebuah Ambulance putih milik
Puskesmas melintas disampingku.
“ahhh, ada apaan sih kok pake ambulan segala”,
pikirku keheranan.
Ambulan tadi berhenti tepat di depan rumahku.
Aku pun makin penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Karena sangat ingin tau apa
yang terjadi, aku pun berlari menuju rumahku. Semakin dekat dengan rumahku, aku
melihat sebuah bendera kuning dikibarkan. Aku semakin penasaran apa yang
terjadi, kupercepat lariku hingga aku sampai dirumah. Kutanya pada orang yang
ada di rumah.
“Paman, ada apa ini kok rame banget, pake ada
ambulan lagi?” tanyaku penasaran sekaligus khawatir pada pamanku.
Pamanku hanya terdiam dan menunjukan jarinya kearah
ruang di dalam rumah.
“Paman ada apa sih”
tanyaku lagi,aku semakin penasaran.
“Kamu masuk aja”, kata
pamanku, terlihat raut kesedihan diwajahnya yang lelah itu.
Tak menunggu lama aku pun berlari kedalam rumah, kulepas
sepatu sekolahku dengan serampangan.
“Blllleeeekkkkk”
Kujatuhkan tas hitamku
yang sejak tadi masih menempel di pundakku di depan pintu, dengan perasaan yang
bercampur antara khawatir, kaget, dan penasaran, kuarahkan pandanganku ke ruang
keluarga, kulihat seseorang yang tengah terbaring lemah tak bernyawa dan dikelilingi
banyak orang. Kudekati sosok itu dengan perasaan takut, dengan tangan yang
gemetar karena menahan perasaan, kubuka kain putih yang menutupi wajahnya, saat
kain itu terbuka, aku tak mampu lagi menggambarkan bagaimana perasaanku. Dia.
Sosok yang terbaring tak berdaya itu. Ia adalah orang orang yang paling
kusayangi didunia ini,”Ibuuu……!!” dengan berurai air mata, kuteriakan namanya.
Kupeluk jasad ibuku
dengan erat, tak kuperdulikan air mata yang mungkin bisa membasahi kain putih
itu, “Ibuuuu…….Ibuuu…..Ibuuuuuu uuu uu……”,
jerit ku terisak-isak melihat jasad ibuku yang terbujur kaku.
Kugoncang-goncangkan tubuhnya, berharap dia akan bangun, sambil terus menjerit
pilu.
“nak, sudah nak,
sudah…. Lepaskan lah, tahan air mata mu, ikhlaskan lah ibu mu”.kata pamanku membujukku.
Namun aku tak memperdulikannya, aku terus memeluk
jasad ibu ku.
“Ibu…. Kenapa engkau pergi, kenapa bu,
kenapaaaaaa????” jeritku.
Air mata ku terus
bercucuran keluar makin deras membasahi kain kafan ibuku. Aku terus menangisi jasad
ibuku. Aku tak tau lagi harus berkata apa, yang kutahu aku hanya menangis dan menangis
di hadapan jasad ibu ku.
“Hiks, hiks, hiks…….”tangis ku terisak isak.
“Abil, sudahlah. Jangan kau tangisi kepergian ibumu.
Percayalah ibu mu tidak menginginkan kepergiannya ditangisi”, ustad membujukku
agar tak menangisi jasad ibuku.
“Ustad, ustad tidak tahu apa yang aku rasakan. Ibuku
adalah duniaku, apa jadinya aku tanpa dia? Apa? ”, jawab ku sambil menangis.
“Ustad tau apa yang kamu rasakan, dulu juga ustad
sangat sedih sekali ketika ibu ustad pergi meninggalkan ustad, tapi ustad
berusaha untuk tetap tegar”. Jawab ustad lagi
“Ustad, sungguh… ini pertama kalinya aku merasakan
kesedihan yang begitu dalam, ibu ku adalah orang yang paling aku cintai, sangat
sedih aku harus kehilangannya”, sahutku.
“Abil, percayalah …. Allah pasti mempunyai rencana lain
dibalik semua ini, jadi kamu harus sabar dan ikhlas ya nak…..” jawab ustadz.
“Baiklah ustad, aku akan berusaha untuk ikhlas”,
lirihku.
“nah, gitu dong…. Sekarang lebih baik kamu
membacakan ibu mu yasiin”
“baik ustad”.
Aku pun mulai menghentikan tangisan ku dan mulai
membacakan almarhumah ibu ku surah yasin.
Tak terasa seluruh bacaan-bacaan telah selsai, kini
waktunya untuk menguburkan jasad ibu ku.
Jasad ibu ku pun mulai dimasukkan ke dalam keranda.
Aku tak mau ketinggalan mengangkat
keranda jasad ibu ku. Aku mengangkat keranda alumunium yang di tutupi
kain bertuliskan lafaz “laailaahaillallahu” itu. Aku mengangkat bagian kanan
belakang keranda itu dan memasukannya ke dalam ambulan putih milik puskesmas.
“Awas pak hati-hati masukkannya”, kata ustad.
“ia ustad”, serempak jawaban orang-orang yang
mengangkat keranda. Aku ikut di dalam ambulan menemani jasad ibu ku menuju ke
pemakaman. “wiuuu wiuu wiuu wiuu” ambulan terus berbunyi dan mulai berjalan
menuju ke pemakaman. Sesekali ku buka kain penutup keranda ibu ku. Ku pandangi
wajahnya yang Nampak sedikit tersenyum. Bersamaku di dalam ambulan ada juga
ustad.
“Ibu, wajah mu tersenyum, aku yakin engkau pasti
husnul Khotimah. Semoga ibu baik disana”, ucap ku sambil melihat wajah ibu ku.
“Pasti bil, ibu mu pasti husnul khotimah, lihat lah
wajahnya yang tersenyum dan berseri. Ustad yakin ibu mu pasti akan masuk
surga”, Kata ustad meyakinkan ku.
terus ku pandangi wajah ibu ku, tak kuasa aku
kembali meneteskan air mata. Tiba-tiba ambulan berhenti.
“ambulannya berhenti, berarti ini sdah sampai
pemakaman”, ucap ku dalam hati.
“Bil dah sampe nih, mari kita turunkan keranda ibu
mu”, ustad mengajakku.
“Baik ustad”, jawab ku
“kleeeekk” suara pintu ambulan yang di buka oleh
ustad. beberapa orang telah menunggu di depan pintu bersiap untuk menurunkan
keranda dari ambulan.
Beberapa orang telah memegang keranda dan
menurunkannya didekat liang lahat.
“awas, awas, pelan pelan” ucap orang yang mengangkat
keranda.
Keranda telah sampai di dekat liang lahat. Aku dan
ustad membuka keranda ibu, beberapa orang mengangkat jenazah ibu dan akan
memasukkannya ke liang lahat. Sementara aku ikut masuk kedalam liang lahat.
“hati hati…. pelan pelan pak”, ucapku.
Sekarang jeazah ibu ku sudah di dalam liang lahat.satu
demi satu Kulepaskan ikatan ikatan kain kafan yang berada di tubuh jasad ibu ku. Seluruh ikatan sudah terlepas, kini Satu per satu papan mulai
dipasang hingga akhirnya hanya tinggal bagian wajah saja yang belum. Untuk
terakhir kalinya aku memandangi wajah ibu ku. “ibu baik-baik disana (tak terasa
lagi lagi air mata ku menetes)” ucapku dalam hati sambil mengusap wajah
almarhumah ibu. Lalu ku tutup dengan papan yang terakhir wajah ibu .
Orang-orang yang berada dalam liang lahat mulai beranjak naik dan mulai
menimbun jasad ibu ku. Aku tak mau ketinggalan ambil bagian. Perlahan lahan
tanah mulai di masukkan kedalam liang lahat hingga akhirnya sedikt menggunung.
Menguburkan kini telah selesai, doa doa pun mulai dipanjatkan untuk almarhumah
ibu ku yang di pimpin oleh ustad.
Untaian doa-doa dipanjatkan. “Ya Allah, ampunkanlah
dosa-dosa ibu ku, berikanlah ia tempat yang terbaik disisi mu. Sabarkan dan
ikhlaskanlah hati ku untuk menerima kepergiannya, aamiin”. Doa ku untuk ibu.
Orang orang yang datang menghadiri pemakaman ibu
satu per satu mulai beranjak meninggalkan pemakaman. Aku tetap bertahan terus
berdoa untuk ibu.
“Ibu, tak kusangka kepergian mu begitu cepat, apa
yang akan aku lakukan tanpa dirim?. Bagaimana dengan maisaroh adikku. Dia masih
begitu polos untuk menerima kepergianmu, lalu siapa yang akan memberikan
perhatian seorang ibu padanya?. Ibu aku
pasti akan merawat Maisaroh, aku janji dia akan menjadi anak yang
solehah kelak dan menjadi orang yang sukses tentunya, Aku yakin itu.” Ucap ku
di atas makam Ibu.
“Abil,mari kita pulang …. Ikhlaskan ibu mu”, kata
ustad
“ustad kalo mau pulang, duluan aja… aku masih mau
sama ibu”, jawab ku
“Abil, sudahlah ayo kita harus pulang….”, ucap ustad
dengan lembut
“baiklah ustad…..”
Aku merangkul makam ibu ku, ku cium nisannya dan
lagi lagi aku tak mampu membendung air mata ku. Aku pun beranjak dari makam ibu
ku, baru sekitar 5 langkah dari makam ibu… tercium wangi semerbak yang amat
harum. Kembali kupandangi makam ibu ku.
“Ibu, semoga wangi ini menjadi tanda awal kebaikan
mu di alam sana” ucap ku dalam hati sambil tersenyum kecil.
Aku pun mulai berangkat untuk pulang ke rumah
bersama ustad.
sumber : Apoy